
Hampir 200 Tahun Yang Lalu, Memori Yang Tak Kan Pernah Dilupakan Dunia Dan Inilah Negeriku Dengan Alamnya Yang Kucintai Sepanjang Hayat. Tahun 1815 ada erupsi yang luar biasa dalam sejarah vulkanik dunia yaitu letusan Gunung Tambora.
Ini kedua terbesar setelah Gunung Toba, yang ketiga baru Krakatau. Efek letusan tersebut, lanjutnya, mengglobal. n suhu global saat terjadi letusan turun hingga dua derajat.Bahkan konon, kekalahan Napoleon saat berperang dengan Rusia akibat letusan Gunung Tambora.Napoleon bangun rantai logistik. Saat Tambora meletus, suhu turun dan musim dingin berkepanjangan di Eropa. Akibatnya rantai logistik putus dan pasukan Napoleon bisa dikalahkan Rusia.
Indonesia adalah negara dengan jumlah gunung yang paling banyak di Dunia. Indonesia memiliki 425 gunung api dimana 125 di antaranya adalah gunung aktif yang tersebar sepanjang pulau Sumatera, Jawa hingga pulau Banda.Indonesia terletak di zona penunjaman lempeng samudera dari wilayah utara Sumatera, terus ke Jawa, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat hingga ke Banda. Tidak hanya itu, Indonesia juga memiliki palung laut dalam di mulai dari ujung Sumatera hingga banda. Wilayah geologis Indonesia memang sangat potensial untuk terbentuknya gunung api Keberadaan gunung berapi patut disyukuri. Gunung api berfungsi sebagai sumber air, emas, perak, besi, granit serta sebagai sumber panas bumi. Tidak hanya itu, bagi pertanian sangat berfungsi karena menyebabkan tingginya kandungan hara serta temperatur yang dingin di mana cocok bagi pertumbuhan tanaman
Pada dasarnya Gunung Tambora adalah gunung aktif. Oleh karena itu, sampai sekarang masih dipantau Direktorat Vulkanologi bagian mitigasi bencana. Namun masalahnya, belum ada teknologi apapun yang dapat memastikan dengan jelas kapan sebuah gunung akan meletus. Untuk gunung besar semacam Tambora, butuh waktu yang cukup panjang untuk meletus setelah sebelumnya terjadi letusan besar. Ini bisa sampai puluhan atau ratusan tahun lagi. Hal itu karena pengumpulan energi gunung api dari pergerakan magma di mantel bumi pada dasarnya lambat. Belum lagi jika terjadi bocoran energi ke gunung di sekitarnya, maka akan butuh waktu yang semakin lama, Namun siklus tidak dapat dipastikan sebagai patokan utama
Gunung Tambora (atau Tomboro) adalah sebuah stratovolcano aktif yang terletak di pulau Sumbawa, Indonesia. Gunung ini terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu (sebagian kaki sisi selatan sampai barat laut, dan Kabupaten Bima (bagian lereng sisi selatan hingga barat laut, dan kaki hingga puncak sisi timur hingga utara), Provinsi Nusa Tenggara Barat, tepatnya pada 8°15' LS dan 118° BT. Gunung ini terletak baik di sisi utara dan selatan kerak oseanik. Tambora terbentuk oleh zona subduksi di bawahnya. Hal ini meningkatkan ketinggian Tambora sampai 4.300 m Yang membuat gunung ini pernah menjadi salah satu puncak tertinggi di Nusantara dan mengeringkan dapur magma besar di dalam gunung ini. Perlu waktu seabad untuk mengisi kembali dapur magma tersebut.
Aktivitas vulkanik gunung berapi ini mencapai puncaknya pada bulan April tahun 1815 ketika meletus dalam skala tujuh pada Volcanic Explosivity Index. Letusan tersebut menjadi letusan tebesar sejak letusan danau Taupo pada tahun 181. Letusan gunung ini terdengar hingga pulau Sumatra (lebih dari 2.000 km). Abu vulkanik jatuh di Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Maluku. Letusan gunung ini menyebabkan kematian hingga tidak kurang dari 71.000 orang dengan 11.000—12.000 di antaranya terbunuh secara langsung akibat dari letusan tersebut. Bahkan beberapa peneliti memperkirakan sampai 92.000 orang terbunuh, tetapi angka ini diragukan karena berdasarkan atas perkiraan yang terlalu tinggi Lebih dari itu, letusan gunung ini menyebabkan perubahan iklim dunia. Satu tahun berikutnya (1816) sering disebut sebagai TAHUN TANPA MUSIM PANAS karena perubahan drastis dari cuaca Amerika Utara dan Eropa karena debu yang dihasilkan dari letusan Tambora ini. Akibat perubahan iklim yang drastis ini banyak panen yang gagal dan kematian ternak di Belahan Utara yang menyebabkan terjadinya kelaparan terburuk pada abad ke-19.
Selama penggalian arkeologi tahun 2004, tim arkeolog menemukan sisa kebudayaan yang terkubur oleh letusan tahun 1815 di kedalaman 3 meter pada endapan piroklastik. Artifak-artifak tersebut ditemukan pada posisi yang sama ketika terjadi letusan pada tahun 1815. Karena ciri-ciri yang serupa inilah, temuan tersebut sering disebut sebagai POMPEII dari timur.
DAMPAK LETUSAN
Semua tumbuh-tumbuhan di pulau hancur. Pohon yang tumbang, bercampur dengan abu batu apung masuk ke laut dan membentuk rakit dengan jarak lintas melebihi 5 km Rakit batu apung lainnya ditemukan di Samudra Hindia, di dekat Kolkata pada tanggal 1 dan 3 Oktober 1815. Awan dengan abu tebal masih menyelimuti puncak pada tanggal 23 April. Ledakan berhenti pada tanggal 15 Juli, walaupun emisi asab masih terlihat pada tanggal 23 Agustus. Api dan gempa susulan dilaporkan terjadi pada bulan Agustus tahun 1819, empat tahun setelah letusan.
Tsunami besar menyerang pantai beberapa pulau di Indonesia pada tanggal 10 April, dengan ketinggian di atas 4 m di Sanggar pada pukul 10:00 malam. Tsunami setinggi 1-2 m dilaporkan terjadi di Besuki, Jawa Timur sebelum tengah malam dan tsunami setinggi 2 m terjadi di Maluku.Tinggi asap letusan mencapai stratosfer, dengan ketinggian lebih dari 43 km. Partikel abu jatuh 1 sampai 2 minggu setelah letusan, tetapi terdapat partikel abu yang tetap berada di atmosfer bumi selama beberapa bulan sampai beberapa tahun pada ketinggian 10-30 km. Angin bujur menyebarkan partikel tersebut di sekeliling dunia, membuat terjadinya fenomena. Matahari terbenam yang berwarna dan senja terlihat di London, Inggris antara tanggal 28 Juni dan 2 Juli 1815 dan 3 September dan 7 Oktober 1815. Pancaran cahaya langit senja muncul berwarna orange atau merah di dekat ufuk langit dan ungu atau merah muda di atas
Pada tanggal 4 Juni 1816, cuaca penuh es dilaporkan di Connecticut, dan dan pada hari berikutnya, hampir seluruh New England digenggam oleh dingin. Pada tanggal 6 Juni 1816, salju turun di Albany, New York, dan Dennysville, Maine. Kondisi serupa muncul untuk setidaknya tiga bulan dan menyebabkan gagal panen di Amerika Utara. Kanada mengalami musim panas yang sangat dingin. Salju setebal 30 cm terhimpun didekat Kota Quebec dari tanggal 6 sampai 10 Juni 1816.
1816 adalah tahun terdingin kedua di Belahan Bumi Utara sejak tahun 1400 Masehi, setelah letusan gunung Huaynaputina di Peru tahun 1600. Tahun 1810-an adalah dekade terdingin dalam rekor sebagai hasil dari letusan Tambora tahun 1815 dan lainnya menduga letusan terjadi antara tahun 1809 dan tahun 1810. Perubahan temperatur permukaan selama musim panas tahun 1816, 1817 dan tahun 1818 sebesar -0,51, -0,44 dan -0,29 °C, dan juga musim panas yang lebih dingin, bagian dari Eropa mengalami badai salju yang lebih deras.
Perubahan iklim disalahkan sebagai penyebab wabah tifus di Eropa Tenggara dan Laut Tengah bagian timur di antara tahun 1816 dan tahun 1819. Banyak ternak meninggal di New England selama musim dingin tahun 1816-1817. Suhu udara yang dingin dan hujan besar menyebabkan gagal panen di Kepulauan Britania. Keluarga-keluarga di Wales mengungsi dan mengemis untuk makanan. Kelaparan merata di Irlandia utara dan barat daya karena gandum, haver dan kentang mengalami gagal panen. Krisis terjadi di Jerman, harga makanan naik dengan tajam. Akibat kenaikan harga yang tidak diketahui menyebabkan terjadinya demonstrasi di depan pasar dan toko roti yang diikuti dengan kerusuhan, pembakaran rumah dan perampokan yang terjadi di banyak kota-kota di Eropa. INI ADALAH KELAPARAN TERBURUK YANG TERJADI PADA ABAD KE-19.
(Disarikan Dari Berbagai Sumber – Rully Hasibuan)