Pulo Kemaro atau Pulau Kemarau merupakan sepotong pulau yang terletak di Sungai Musi, antik dan unik. Tidak ada jalan darat yang dapat dilalui selain menempuh jalur sungai dengan menyewa perahu ketek atau speed boat dari pelabuhan-pelabuhan di Palembang (umumnya anda harus naik dari Benteng Kuto Besak).
Pulau yang benar-benar terpisah dari daratan Palembang ini adalah pulau yang memang dikhususkan untuk wisata ziarah terutama untuk penganut Buddha dan Kong Hu Cu. Setiap Cap Go Meh atau penanggalan 15 hari sesudah Imlek setiap tahunnya akan digelar perayaan besar-besaran di pulau ini. Ribuan umat dari penjuru Palembang dan sekitarnya akan memadati pulau ini. Jalan sungai pun tidak disarankan lagi karena selama periode Cap Go Meh ini, pemkot Palembang membangun suatu jalan darat yang unik karena terbuat dari deretan perahu tongkang yang disusun sehingga orang dapat berjalan di atasnya.Bukan hanya sekedar para peziarah, pesembayang atau wisatawan. Orang yang datang ke Pulo Kemaro bahkan ada yang mengangkut gerobak dagangan mereka guna berjualan selama sekian hariLEGENDA ;
Konon jaman dahulu kala, putri kerajaan Sriwijaya Siti Fatimah jatuh hati kepada pemuda perantauan dari Tiongkok. Setelah menikah, mereka mendatangi orangtua si pemuda di Tiongkok. Ketika pulang mereka diberi 7 guci besar. Namun dalam perjalanan menyusuri sungai Musi, si pemuda membuka guci yang ternyata hanya berisi sayuran dan asinan. Pemuda itu malu dan membuang guci ke sungai. Setelah dibuang, si pemuda justru tahu jika guci tersebut juga berisi perhiasan emas. Pemuda Tiongkok nekat terjun ke sungai untuk mengambil guci itu lagi. Tak ingin berpisah dengan suaminya Siti Fatimah ikut lompat ke sungai. Anehnya dari tempat Siti Fatimah meninggal, muncul gundukan tanah yakni Pulai Kemaro.